Sunday, 15 March 2015

2007 - Getting Of The Hook-Reforming Tuna Fisheries Of Indonesia - (Ingles et al)



SUMMARY


DOWNLOAD DOC HERE

Capital from Nature

Indonesia is one of the most important tuna production centers of the world. Sadly, Indonesia’s tuna fisheries face an array of challenges. Data and recommendations in this report may serve as a basis for a comprehensive tuna management plan for Indonesia based on Fishery Management Areas, geographic units at a seascape scale that facilitate ecosystem-based management of fishing grounds.

Key Results of the Study

I. Filling the Gaps: Making Correct Management Decisions
Shortcomings in the current data collection system have made it difficult to produce an
accurate assessment of tuna stocks—A vital component in making appropriate policy
decisions. Recommendations to make tuna fisheries stock assessment-ready include:
Expanding the coverage of data collection sites and improving data collection forms to include new sets of information (e.g., species information, fi shing gear types); hiring and training more qualified personnel; utilizing web-based support for fast and efficient exchange of information; developing and implementing observer programs; nurturing a critical mass of fisheries science capacity in the country; and investing in tuna research.

II. Shifting Seascapes: Responding to Changing Fishing Patterns
The Indonesian tuna fisheries are currently undergoing dramatic changes that have crucial
implications in the context of management, investment, and policy. Such changes include:
Changes in species composition; changes in sectoral roles wherein the small scale tuna fishing sector has become the major supplier of tunas; and fleet structure, brought about by consumer demands, operational costs, and economic downturns. In order to respond to such changes and keep them from spiraling out of control, effective regulations have to be developed and implemented.

III. A Larger Playing Field: Being Globally Competitive
Staying at par with global players in the industry entails improving market access, doing away with harmful subsidies to the tuna industry (e.g., fuel, fi shing boats), which exacerbate the already high levels of fi shing intensity, addressing post-harvest losses; and rationalizing tuna exports by improving production processes and coming out with high-quality and innovative products.

IV.The Ripple Effect: Keeping Ecological Impacts in Check
To date, tuna fisheries undermine the ocean’s ecological integrity through unregulated by-catch (accidental catch of non-target species), unmanaged bait fisheries (which affects populations of other species), and unregulated fishing of tuna stocks. Keeping ecological impacts in check means having to maintain healthy stocks of baitfish by: setting policies and guidelines on the use of baitfish, applying precautionary measures wherein issuance of fishing licenses depend on the availability and status of bait fish stock; and looking into other species as an alternative source of bait fish. Reducing the amount of by-catch of non-target species such as turtles means promoting the use of circle hooks to longline fishing fleets, training crew members in proper de-hooking and handling of turtles to ensure high survival rates upon release, and avoiding as much as possible fishing in areas with high turtle abundance. The fate of yellowfin and bigeye tunas depends on how fishing of juveniles is addressed. Achieving this means regulating the use of Fish Aggregating Devices (FADs) that attract juvenile tunas, as well as developing fishing practices where the species composition of fish aggregated around a FAD is identified before a decision to set the net is made.

Roadmap to Sustainable Tuna Trade in Indonesia

Stocks of tuna in many areas within the territorial and Exclusive Economic Zone (EEZ) of
the country have declined as indicated by trends in total catch and decline in catch rates. The
current level of tuna management falls short of ensuring sustainability of tuna stocks and the
conservation of bait fish fisheries. The roadmap to sustainable tuna trade depicts a set of
short-term and long-term goals designed to achieve sustainable trade in about 10 years or less.

The Journey Begins: Steps towards a Sustainable Tuna Trade

We recommend a plan towards sustainable tuna fisheries that comprises the following steps:
  1. Make tuna fisheries Ecosystem-based Management (EBM) compliant, following a triple bottom line approach: optimizing ecological, economic, and socio-cultural benefits.
  2. Indonesia should actively participate and push for reforms in at least 3 regional management organizations. Indonesia is a powerful tuna producing country and can use these regional organizations to provide technical capacity and logistical support to fund many of the reforms needed.
  3. Make tuna exports and products internationally competitive by reducing or eliminating wastage in tuna fishing as a result of poor post harvest handling, improving services supporting export, and encouraging research and development for new tuna products.
  4. Provide an investment climate conducive for supporting well-planned tuna development. This entails improving the brand name of Indonesia in the world market, removing or eliminating harmful subsidies that create monopolies, and addressing corruption issues.
  5. Lay down the foundation to change consumer consumption behavior through advocacy and communications campaigns.


Towards the Finish Line: Sustaining the Vision

EBM can contribute to a sustainable tuna trade in the near future. Implementation of better
practices is a continuing process that depends on adaptive management. This means relying
on solid science to support decision making, as well as sharing domestic experiences with the
region. Indonesia can become a major decision maker in regional fishery management
organizations, and could form coalitions with its neighbors for reforms. Should Indonesia
succeed in reforming its international trade and fishery management practices, the country
could utilize its influence to complement the resource management of other countries

in the region.

Saturday, 7 March 2015

2013 - Tinjauan Status Perikanan Hiu dan Upaya Konservasinya di Indonesia (Fahmi & Darmadhi )




DOWNLOAD DOC


RINGKASAN


Perairan Indonesia memiliki keragaman jenis hiu yang cukup tinggi. Setidaknya 116 jenis ikan hiu yang termasuk ke dalam 25 suku ditemukan di wilayah perairanIndonesia. Namun kondisi saat ini menunjukkan bahwa hampir seluruh jenis ikan hiu yang bernilai ekonomis telah dihadapkan kepada ancaman kelangkaan. Kondisi ini menjadi perhatian internasional terutama di kalangan penggiat konservasi. Organisasi internasional yang bergerak di bidang perlindungan dan konservasi biota (IUCN, International Union for Conservation of Nature) telah menyusun beberapa kriteria status konservasi jenis hewan berdasarkan tingkat kerawanannya terhadap kepunahan di dalam suatu daftar merah (red list). Tercatat satu jenis hiu di Indonesia yang telah dikategorikan sebagai sangat terancam langka (critically endangered), 5 jenis yang termasuk terancam langka (endangered), 23 jenis yang termasuk kategori rawan punah (vulnerable), serta 35 jenis hiu yang termasuk dalam kategori hampir terancam (near threatened). Hiu umumnya menempati posisi puncak di dalam rantai makanan di laut dan diyakini berperan penting di dalam menjaga dan mengatur keseimbangan ekosistem, sehingga apabila keberadaannya terancam di alam dikhawatirkan dapat merubah tatanan alamiah dalam struktur komunitas yang berakibat pada terganggunya keseimbangan suatu ekosistem.

Sumber daya perikanan hiu merupakan salah satu komoditi perikanan yang cukup diperhitungkan dalam beberapa dekade terakhir disebabkan adanya permintaan akan komoditas sirip yang tinggi di pasaran internasional. Umumnya hiu tertangkap di perairan Indonesia sebagai hasil tangkapan sampingan dari berbagai jenis alat tangkap seperti pancing rawai, jaring insang, jaring lingkar dan sebagainya. Pemanfatan komoditas ini di Indonesia mulai meningkat sejak tahun 1980an. Data hasil tangkapan hiu sejak tahun 1975 hingga 2011 menunjukkan tren kenaikan yang cukup signifikan. Jumlah tangkapan hiu mencapai puncaknya pada tahun 2000, untuk kemudian mulai menunjukkan kecenderungan adanya penurunan walaupun berfluktuasi. Salah satu faktor yang mengindikasikan terjadinya penurunan populasi hiu dapat diketahui dari hasil tangkapan per upaya (CPUE) yang dapat menggambarkan kondisi eksploitasi sumberdaya perikanan yang sesungguhnya. Wilayah yang menjadi daerah tangkapan hiu paling potensial di Indonesia adalah Samudera Hindia. Umumnya aktivitas penangkapan hiu berlangsung sepanjang tahun, namun terdapat bulan-bulan tertentu yang merupakan musim tangkapan tertinggi dari komoditas tersebut di perairan Indonesia.

Tipe alat tangkap yang digunakan dan daerah penangkapan amat berpengaruh terhadap komposisi jenis dan ukuran hasil tangkapan hiu. Selain itu, perubahan komposisi hasil tangkapan juga dipengaruhi oleh periode penangkapan. Adanya penggunaan alat tangkap yang tidak selektif yang dioperasikan di perairan pesisir dan perairan dangkal dimana ikan-ikan hiu muda ditemukan, lambat laun akan mempengaruhi populasi ikan dewasanya di masa mendatang dan menghambat proses rekrutmennya di alam. Adanya penurunan produksi hasil tangkapan ikan hiu di Indonesia mulai terlihat pada beberapa jenis hiu yang umum tertangkap, seperti jenis hiu tikus (Alopiidae) dan lanjaman (Carcharhinidae) dalam kurun waktu tahun 2005-2007. Selain itu, dalam kurun waktu tersebut terlihat pula adanya pergeseran daerah penangkapan, dari yang semula terfokus di wilayah selatan Jawa dan Barat Sumatera, bergeser ke wilayah Laut Natuna dan wilayah timur Indonesia. Adanya indikasi penurunan stok hiu di alam juga dirasakan sendiri oleh nelayan-nelayan penangkap hiu di beberapa daerah yang semakin hari harus menangkap ikan ke tempat yang lebih jauh.


Perikanan hiu merupakan sumber utama mata pencaharian sebagian masyarakat di beberapa daerah di Indonesia, mulai dari nelayan, pengepul, pedagang hingga eksportir. Rantai perdagangan hiu cenderung panjang dan kompleks, sehingga sulit untuk membangun sistem keterlacakan untuk mengetahui asal-usul ikan hiu yang ditangkap. Untuk itu perlu dikembangkan metode yang tepat untuk menyederhanakan rantai perdagangan khususnya di tingkat pengepul. Sebagai contoh, setiap tangkapan nelayan hanya dijual atau dikumpulkan pada satu pengepul atau badan usaha seperti koperasi yang kemudian mengolahnya atau menjualmya pada tingkat eksportir. Pentingnya komoditas ikan hiu bagi sebagian nelayan yang terkait dengan perikanan hiu perlu menjadi catatan khusus bagi pemangku kepentingan di dalam menerapkan langkah-langkah pengelolaan hiu di Indonesia. Untuk menyelamatkan populasi hiu di alam, pemerintah perlu menerapkan upaya-upaya pengelolaan konservasi dan pembatasan tangkapan hiu. Adapun upaya-upaya pengelolaan yang dilakukan meliputi pembatasan jenis dan ukuran yang ditangkap, pengaturan dan pembatasan alat tangkap, pembatasan jumlah tangkapan dan upaya penangkapan, serta penutupan daerah dan penentuan musim penangkapan. Selain menetapkan berbagai macam peraturan dan undang-undang pengelolaan perikanan yang berkelanjutan, upaya-upaya lain seperti perlindungan terhadap habitat, ketersediaan data dan informasi, pemantapan kelembagaan serta penyadaran terhadap masyarakat, juga menjadi kunci sukses terciptanya sumber daya perikanan hiu yang lestari

2015 - Prosiding Simposium Nasional Pengelolaan Tuna Berkelanjutan di Indonesia (WWF & KKP)




DOWNLOAD DOC


Prosiding adalah hasil dari simposium nasional "Pengelolaan Tuna Berkelanjutan", dilaksanakan di Denpasar, Desember 2014 hasil kerjasama WWF-Indonesia dan Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia. Prosiding terdiri dari kumpulan tulisan mengenai hasil penelitian dan makalah tentang perikanan tuna, tongkol dan cakalang. Prosiding berisi 141 tulisan terseleksi dari kurang lebih 180 tulisan yang didaftarkan, yang dibagi kedalam 6 tema :

  1. Status stok untuk perikanan tuna
  2. Harvest Control Rules
  3. Perkembangan teknologi dan armada tangkap perikanan tuna yang berkelanjutan
  4. Pasar perikanan tuna yang berkelanjutan dan berkeadilan
  5. Kebijakan & Pengelolaan tuna yang berkelanjutan
  6. Persyaratan dan resolusi perikanan tuna Indonesia